Lewat bacaan prosesi daun palem, Saya dan mungkin juga anda kemudian mengetahui bagaimana Yesus pada massa itu memasuki Yerusalem.
Yesus menunggang keledai dan dielu-elukan sebagai Dia yang datang dalam nama Tuhan. Ranting-ranting hijau dan menghamparkan pakaiannya diletakkan dijalan, hingga kaki keledai tak menapak ditanah.
Keledai dalam budaya timur adalah simbol binatang damai, karenanya kedatangan Yesus di Yerusalem dengan menunggang keledai melambangkan kedatangan-Nya sebagai Raja Damai.
Dalam bacaan tidak disebut pemakaian daun palem, tetapi dalam tradisi Yahudi, daun palem adalah lambang kemenangan. ‘Hosana, Hosana Putra Daud” seruan para penduduk Yerusalem menyambut kedatangan Yesus.
Peristiwa ini dalam tradisi Katolik terus dirayakan setiap minggu palma. Peristiwa minggu palma sebagai kisah ironi, tentang kemunafikan manusia, plin-plan.
Mirip massa demonstran bayaran dalam konteks sekarang. Hari ini berteriak "Hosana!", lalu esok harinya berteriak "Salibkan Dia!" dengan semangat dan gairah yang sama.
Saya selalu memahami minggu palma sekadar sebagai keramaian massa yang murahan, seperti pawai-pawai yang sering saya saksikan. Yang hari ini hiruk-pikuk dan ramai setengah mati, seolah-olah seluruh kota sesak bertabur bunga.
Akan tetapi, keesokan harinya senyap dan mati, cuma menyisakan timbunan sampah di sudut-sudutnya. Tanpa makna, tanpa arti.
Namun, kalau begitu, apakah pentingnya prosesi minggu palma bagi Anda dan Saya?

KOMENTAR