Membangun Optimisme dalam Bernegara Bangsa


Oleh: Marianus M. Tapung

Pernyataaan ketua Umum Partai Gerindra Bapak Probowo Subianto tentang bubarnya bangsa Indonesia pada tahun 2030 tentu banyak memanen polemik. Dari sisi positif, meskipun bersumber pada sebuah novel fiksi berjudul Ghost Fleet  (2015) karya P.W. Singer dan August Cole, tetapi penyataan ini bisa dilihat sebagai sebuah warning untuk tetap membenah kesadaran berbangsa. 

Saya melihat, pernyataan ini menjadi ungkapan alam bawa sadar dari seorang tokoh bangsa agar setiap insan tetap concern, solid dan bertanggung jawab dalam  berbangsa. Selain itu, pernyataannya dapat juga dinilai sebagai manifestasi rasa cinta  yang begitu mendalam terhadap tanah air. 

Pernyataan seperti ini jarang muncul dan tidak bisa diungkapkan begitu saja oleh orang yang bukan tokoh. Tentu ketika pernyataan ini diungkapkan, sudah melalui pertimbangan dan keputusan yang matang. Dan, saat menjadi viral dan tuai perdebatan, maka pernyataan ini bisa dipersepsi memiliki makna  dan daya kuat (meaningful dan powerful statement) bagi ekosistem kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Sementara dari sisi negatif, saya berkesimpulan bahwa penyataan ini terlalu vulgar dalam mengumbar pesimisme. Ada dua hal yang menjadi alasan kesimpulan: Pertama, selama saya belajar sejarah berbangsa, pernyataan ini  menjadi satu-satunya yang begitu pesimistik dan sangat imajiner. Pernyataan ini sekonyong-konyong memporakporanda optimisme dan idealisme sebagai anak bangsa yang berasal dari belahan timur Indonesia. Kedua, untuk mendalami pernyataan, saya perlu mengulas perbedaan antara pesimisme dan skeptisisme.

Pesimisme adalah sebuah bentuk kecenderungan sikap subyektif, bercampur bumbu fiktif dan imajiner. Umumnya, kecenderungan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dangkal, artifisial dan sensasional semata. Artikulasinya sering tidak berdasarkan pada kajian-kajian ilmiah, apriori dan tidak melewati sebuah proses metodologi berpikir yang adequat (Blackburn, 2013). 

Pesimisme juga kerap muncul karena kesimpulan dikonstruksi tidak berangkat dari premis-premis yang masuk akal, hanya mengandalkan opini dan persepsi semata, serta tidak melalui proses refleksi yang panjang. Sementara pemikiran skeptik adalah sebuah disposisi intelektual, di mana seorang memutuskan untuk ragu-ragu (dubium) akan sesuatu hal, atau suatu rancangan akan masa depan,  berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal dan beralasan (Bagus, 1999). 

Pemikiran skeptik merupakan dampak langsung dari sebuah kesimpulan sebagai hasil analisis mendalam, dan sudah pasti berdasarkan fakta dan data yang tervalidasi (falsifikasi dan verifikasi) oleh para ahli (expert judgement). Pemikiran skeptik menjadi salah satu sisi dari sebuah proses refleksional yang dalam terhadap tangkapan panca indera (sensasi) dan artifisialitas. Jelasnya, pemikiran skeptik merupakan hasil interpretasi dan pemaknaan terhadap  fenomena, fakta dan data. Nah, dari ulasan ini silahkan menilai, apakah statement bapak Probowo masuk dalam kategori pemikiran skeptik atau sekadar sikap pesimistik-imaginer.

Skenario Membangun Bangsa yang Optimis

Dalam konteks matriks analisis SWOT, skeptisisme muncul ketika acaman (threat) dan  kelemahan (weakness) lebih kuat dibanding peluang (oppurtunity) dan kekuatan (strength). Biasanya SWOT merupakan salah satu instrumen yang bisa dipakai untuk membuat sebuah ramalan ilmiah atau yang disebut prediksi. Sementara dalam konteks pembangunan bangsa, yang sering digunakan adalah analisis atau skenario membangun bangsa (nation scenario building). 

Untuk mendukung skenario membangun bangsa ini, yang kerap menjadi rujukan dasar adalah  kekekuatan-kekuatan penentu (driving forces) yang kontekstual dalam bangsa tersebut. Jika kekuatan-kekuatan penentu, seperti ekonomi, sumber daya manusia, sumber daya alam, infrastruktur, keamanan, pendidikan, kesehatan, dll., rapuh maka bisa diprediksi atau diproyeksi mengenai pembubaran suatu bangsa. Namun, selagi faktor-faktor penentu di atas masih normal, seimbang (equilibrium) dan prospektif untuk mengalami peningkatan, maka sangatlah tidak beralasan untuk berpikir skeptik atau hanya sekedar bersikap pesimistik.

Bila muncul pemikiran skeptik dan sikap pesimitik pada saat kondisi bangsa normal dan bergerak maju, bisa dikategorikan sebagai sebuah ‘fenomena anomali berbangsa’. Bila fenomena pemikiran skeptik dan sikap pesimitik berusaha dikembangkan secara terstruktur, sistematis, masif; maka selain bisa dilihat sebagai sebuah kepentingan politik ideologis, tetapi juga menjadi ancaman yang akan merampok optimisme generasi bangsa. Meski demikian, pada negara-negara yang sudah matang dalam berdemokrasi, fenomena anomali berbangsa ini lumrah dan sering terjadi. Tugas negara adalah berusaha untuk menetralkan dan menjawab pemikiran skeptik dan sikap pesimistik dengan program-program nyata demi penguatan tonggak-tonggak negara bangsa, agar tidak rapuh dan goyah.

Mari Mulai Membangun Manusia

Narasi mengenai besar dan berkembangnya sebuah negara bangsa sangat tergantung pada manusianya. Adanya pesimisme, skeptisisme dan optimisme sangat tergantung pada manusianya. Bila belajar dari negara Jepang yang mengalami situasi porak poranda akibat perang dunia ke-2 dengan peristiwa Bom Nagasaki dan Hiroshima (Agustus 1945), maka kita akan menyadari betapa penting membuat prioritas pembangunan manusia. Para pemimpin Jepang begitu optimis untuk bangkit dari keterpurukan waktu itu, justru ketika mereka mengetahui secara pasti kekuatan-kekuatan penentu negara yang bisa diandalkan, antara lain manusia dan kekayaan alamnya. 

Sampai pada abad 21 ini, Jepang sudah menjadi salah satu negara superpower dalam segala bidang kehidupannya.Kemudian bisa diprediksi dan diproyeksi, apa pun bentuk ancaman dan hambatan yang akan melanda, negara ini tetapi berdiri teguh dan tak akan mungkin bubar. Bahkan mereka optimis, pada pertengahan abad ini Jepang akan menjadi satu-satunya negara yang berkekuatan ekonomi paling besar di dunia.

Ketika pemerintah Indonesia saat ini fokus dan berorientasi pada pembangunan fisik, mungkin lebih pada pertimbangan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan sarana dan prasarana dasar untuk mempertahankan dan menjaga keberlangsungan hidupnya. Namun, hal ini tidak berarti menafik kebutuhan akan pembentukan karakter manusia. Sebab, pada fase tertentu proyek-proyek fisik ini bisa mubazir dan terjebak dalam ‘politik pembangunan Mercusuar’, di mana yang diandalkan adalah kehebatan fisik pembangunan, tetapi belum pasti berdampak signifikan bagi kehidupan masyarakat. Yang menjadi kebutuhan saat ini adalah model manusia yang bisa memanfaatkan dan memberdayakan sarana prasarana dengan baik dan benar. 

Lebih dalam dari itu, terbentuk manusia yang bisa menciptakan dan membangun sendiri. Hal ini penting demi menghindari segala bentuk ketergantungan pada sumber daya dari negara lain. Dalam konteks bonus demografi,  harapan kekinian adalah manusia berkarakter kuat dalam membangun bangsa. Seandainya sekarang kita lebih fokus pada pembangunan manusia, maka pada tahun 2030 Indonesia akan mengalami surplus manusia yang memiliki semangat dan jiwa inovatif, kreatif, prospektif, optimis dan memiliki rasa cinta bangsa yang tinggi. Bila hal ini menyata, maka segala bentuk pernyataan pesimisme dan pemikiran skepitisme, dengan sendirinya terbantahkan dan dianggap prematur.

Dengan majemuknya manusia yang berjiwa dan bersemangat inovatif, kreatif, optimis, prospektif, dan nasionalis, maka Indonesia tetap akan menjadi penentu utama pengerakan kemajuan. Mereka akan menegaskan bahwa Indonesia adalah milik sepenuh rakyat Indonesia. Segala bentuk determinasi dan imperialitas dari negara lain dengan mudah dibendung, hanya ketika bangsa Indonesia sendiri sudah memiliki manusia yang memiliki kapasitas, kapabilitas dan kompentesi dalam membangun. Jadi, membangun manusia adalah sebuah keniscayaan dalam upaya mempertahankan bangsa. Erich Fromm (2001) pernah berujar: “Mencintai negara tanpa mencintai (membangun) kemanusiaan sama saja dengan menyembah berhala”. Karena itu, marilah kita lebih fokus membangun manusia!

Marianus M. Tapung - Mahasiswa S3 UPI/Sekjen Perennial Institute



KOMENTAR

Name

Budaya,4,Diary,18,Ecosoc Rights,2,Ekonomi Kreatif,1,HAM,1,Hukum,16,Kabar Desa,1,Kolom,3,Labuan Bajo,1,Newsroom,12,Opini,19,Politik,2,Sastra,8,Video,4,
ltr
item
Voxnesia: Membangun Optimisme dalam Bernegara Bangsa
Membangun Optimisme dalam Bernegara Bangsa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi143iKKkRLqHpjXtV1TpWAvvBQikRDq0f5qDegTdP8pjgRGr1X4ihicqWCWHDPfatHEjgDJBbhOIh6ReKEW2PG82NSqN8Kop6ijgH1qGx2OZdmN2Nvf3mE_U6WFl2-i0oz9HsaGk6VtgA/s400/2030.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi143iKKkRLqHpjXtV1TpWAvvBQikRDq0f5qDegTdP8pjgRGr1X4ihicqWCWHDPfatHEjgDJBbhOIh6ReKEW2PG82NSqN8Kop6ijgH1qGx2OZdmN2Nvf3mE_U6WFl2-i0oz9HsaGk6VtgA/s72-c/2030.jpg
Voxnesia
https://dechelluz.blogspot.com/2018/03/membangun-optimisme-dalam-bernegara.html
https://dechelluz.blogspot.com/
https://dechelluz.blogspot.com/
https://dechelluz.blogspot.com/2018/03/membangun-optimisme-dalam-bernegara.html
true
7164258245190438750
UTF-8
Semua Postingan Tidak ditemukan postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Oleh Beranda LAMAN ARTIKEL Lihat Semua Rekomendasi FOTIK ARSIP PENCARIAN SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel yang sesuai Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy