![]() |
| Illustrasi |
Setiap
ruang kelas di setiap fakultas pasti selalu ada 1 bahkan 2 atau lebih mahasiswa perusak suasana.
Mahasiswa seperti ini biasanya boleh disebut “over”. Kalau ketawa
kelebihan ngakaknya. Kalau bertanya asal bunyi, tak bermakna, minus substansi dan hal-hal
yang sepele alias tidak berbobot. Asal bertanya, yang penting bertanya.
Mahasiswa
perusak suasana ini juga acapkali membuat komentar-komentar kecil ditengah dosen sedang menjelaskan
materi perkuliahan. Komentarnyapun tak relevan dengan materi perkuliahan. Waktupun sejenak terhenti, minimal dosen bertanya, “ya
kenapa?, Bagaimana?”. Situasi ini membuat sang dosen sejenak kehilangan alur penjelasan materi, "tadi sampai dimana ya", berpikir sejenak, kemudian melanjutkan perkuliahan. Proses inilah yang menghilangkan suasana kelas, tidak
hanya dosen mahasiswa yang lain juga.
Sekilas
mahasiswa perusak suasana terlihat aktif, aktif bertanya. Seolah-olah, ia
mengikuti betul proses perkuliahan. Namun sebetulnya itu adalah sebuah perilaku
yang over. Ketika dosen bertanya, mahasiswa perusak suasana bingung menjawab
atau menjawab asal-asalan.
Apakah
mahasiswa itu sadar sedang merusak suasana kelas? Saya kira YA, dia sadar betul
sedang menganggu suasana perkuliahan, orientasi merusak susana kelas biasanya atas
dorongan eksistensi, butuh perhatian, pengakuan bahkan boleh disebut sedang mencari identitas diri (mungkin jiwa terganggu?).
Mahasiswa
perusak susana biasanya dari kalangan mahasiswa yang lemah secara akademis. Saya yakin itu pasti. Indikatornya dari cara
bicara tak tertata, ngawur, asal bunyi. Mahasiswa seperti ini mengingatkan saya
pada teori Herbeth Feith dalam bukunya berjudul Indonesian Poltical Thinking.
Feith menegaskan kualitas orang diukur dari ucapanya, dari kata-kata atau diksi
yang digunakan sewaktu dia berbicara.
Teori
Herbeth Feith ini jika dilihat dari perspektif sosiologi dapat dikembangkan
bahwa kualitas orang juga diukur dari tindakan atau prilaku sosialnya.
Bagaimana Mengatasi?
Mahasiswa
perusak suasana biasanya akan makin gencar melakukan aksinya jika mahasiswa dan dosen merespon, seperti tertawa, tepuk tangan. Ia merasa mendapat tempat,
merasa didukung dan disenanggi. Respon ini memberi reaksi pada mahasiswa
perusak suasana ini untuk terus beraksi, merasa ada pengakuan atas
eksistensinya.
Seperti yang dikatakan Mead bahwa kita sebagai bagian dari lingkungan sosial tersebut juga telah membantu menciptakan lingkungan tersebut. Pendapat Mead dalam konteks ini dapat diartikan, dosen dan mahasiswa lain sebetulnya turut membantu terciptanya ruang kelas kehilangan suasana perkuliahan yang efektif.
Pilihan yang harus diambil oleh dosen dan mahasiswa lainnya adalah menghentikan aksi mahasiswa perusak suasana itu dengan tidak merespon, mendiamkan alias cuek. Melihat ini, ia merasa minder (kalau sehat jiwa), dan merasa kehilangan ruang eksistensi.
Ketika sikap ini yang diberikan lambat laun
mahasiswa perusak susana akan mengikuti irama dosen dalam menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan dan efektif dapat terwujud.
Selamatkan
Sekalipun acapkali
menganggu suasana belajar, mahasiswa dan dosen tentu tak boleh mendiskriminasi
atau mengkucilkan mahasiswa perusak suasana ini. Sikap yang “over” tadi dapat diarahkan
menjadi hal yang posistif. Intinya, tipe mahasiswa seperti ini harus
diselamatkan.
Begitu dulu……..terima
kasih, mohon maaf lahir batin.

KOMENTAR