Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII)
merilis jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 143,26
juta jiwa. Angka tersebut mencakup 54,68 persen dari total populasi
Indonesia yang mencapai 262 juta orang. Terjadi peningkattan jika dibandingkan hasil survey dari lembaga yang sama tahun 2016,
yang mencapai mencapai 132,7 juta jiwa.
Meningkatnya perkembangan pengguna internet di Indonesia
memiliki dampak positif antara lain semakin meningkatnya pertumbuhan e-commerce
di Indonesia. Namun, di saat yang sama, pertumbuhan pengguna yang massif ini
membuka ruang lebih luas untuk meningkatnya radikalisme digital, jejaring
teroris online, berita palsu, ujaran kebencian dan cyberbullying. Hal itu
terlihat dengan begitu banyaknya informasi hoaks.
Berita-berita hoax yang menyesatkan beredar lewat berbagai
jalur digital, termasuk situs media online, blog, website, media sosial, email,
dan aplikasi pesan instan. Menurut The Jakarta Post, sejak 2008 lalu sebanyak
144 orang telah diproses hukum karena akibat Undang-Undang Informasi dan
Transaksi Elektronik (ITE), terutama terkait berita palsu dan ujaran kebencian
di media sosial.
Menyebarkan atau memberikan informasi buruk di internet bisa terancaman pidana pasal 310 dan 311 KUHP dan Undang-Undang ITE. Cek dulu informasi yang ingin disebarkan, apa dapat merugikan orang lain, jangan sampai bersinggungan dengan hukum
Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi
dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa
pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten
negatif.
Para penguna internet dituntut mempunyai kecerdesaan literasi digital yang tinggi, agar tidak gampang dipengaruhi oleh berita-berita hoaks yang dapat melunturkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kampanye publik dapat digalakkan untuk menangkal hoax
Lalu, bagaimana agar tidak mudah terpengaruh berita hoax? Berikut ini Tips dari The Washington Post yang dapat dijadikan sebagai pelajaran:
Para penguna internet dituntut mempunyai kecerdesaan literasi digital yang tinggi, agar tidak gampang dipengaruhi oleh berita-berita hoaks yang dapat melunturkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kampanye publik dapat digalakkan untuk menangkal hoax
Lalu, bagaimana agar tidak mudah terpengaruh berita hoax? Berikut ini Tips dari The Washington Post yang dapat dijadikan sebagai pelajaran:
Pertama, Jangan cuma judulnya. Banyak orang sebenarnya tidak membaca konten yang mereka
bagikan. Mereka hanya membaca judulnya. Untuk mencegah Anda sendiri menjadi
penyebar hoax, hilangkanlah kebiasaan membagikan konten tanpa membaca isinya
secara menyeluruh.
Kedua, Sumber berita. Orang sering tidak mempertimbangkan legitimasi sumber
berita. Situs berita hoax bisa muncul tiap saat, tetapi kita sebenarnya bisa
menghindari jebakannya dengan bersikap lebih hati-hati melihat sebuah situs.
Sikap hati-hati ini juga berlaku bagi narasumber yang mereka kutip, minimal
dengan mencari referensi lanjutan di Google atau situs lain yang sudah
terpercaya.
Ketiga, Orang cenderung mudah terkena bias konfirmasi. Orang punya kecenderungan untuk menyukai konten yang
memperkuat kepercayaan atau ideologi diri atau kelompoknya. Hal ini membuat
kita rentan membagikan konten yang sesuai dengan pandangan kita, sekalipun
konten tersebut hoax. Jika Anda membaca berita yang betul-betul secara sempurna
mengukuhkan keyakinan Anda, Anda harus lebih berhati-hati dan tidak buru-buru
memencet tombol Share.
Keempat, Orang mengukur legitimasi konten dari berita terkait. Sebuah berita belum tentu bukan hoax hanya karena Anda
melihat konten terkait di media sosial. Jangan buru-buru menyimpulkan lalu ikut
membagikannya. Kadang-kadang, hoax memang diolah dari berita media terpercaya,
hanya saja isinya sudah diplintir.
Kelima, Makin sering orang melihat sebuah konten, makin mudah mereka mempercayainya. Hanya karena banyak teman-teman Anda share berita tertentu, bukan berarti berita tersebut pasti benar. Alih-alih langsung mempercayai dan membagikannya, Anda bisa mencegah ikut ramai-ramai termakan hoax dengan melakukan pengecekan lebih lanjut.
Kelima, Makin sering orang melihat sebuah konten, makin mudah mereka mempercayainya. Hanya karena banyak teman-teman Anda share berita tertentu, bukan berarti berita tersebut pasti benar. Alih-alih langsung mempercayai dan membagikannya, Anda bisa mencegah ikut ramai-ramai termakan hoax dengan melakukan pengecekan lebih lanjut.

KOMENTAR