Dikotomi Politik dan Administrasi Negara


Politik dan Administrasi negara merupakan dua sisi mata uang, keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat yang tidak dapat dipisahkan. Banyak pihak memandang administrasi publik sebagai pelaksana bagi politik. Keduanya terangkai dalam jalinan interkoneksi, ini dibuktikan dengan politik merupakan pangkal tolak administrasi negara dan administrasi negara adalah merupakan kelanjutan dari proses politik.  

Politik merupakan dimensi penting dalam administrasi negara. Politik perumus strategi negara dan administrasi negara implementor strategi tersebut. Politik tanpa administrasi negara hanya sekedar jargon dan janji – janji, sebaliknya administrasi negara tanpa politik seperti mobil yang berjalan tanpa arah tujuan.  Karena itu, perlu dipahami apa pengertian dan fungsi politik dan administrasi negara, serta perdebatan seputar hubungan administrasi negara dengan politik yang telah menjadi isu klasik dalam ilmu administrasi negara.  

Politik dan administrasi adalah dua rangkai mekanisme yang seharusnya saling mendamaikan. Administrasi negara ada untuk mentertibkan proses politik, sedangkan hasil proses politik sudah seharusnya mendewasakan aparatur birokrasi di negeri ini.

Namun, secara praktis sebenarnya administrasi negara dan politik tidak memiliki batasan secara jelas. Sekalipun administrasi negara adalah kelanjutan dari proses politik, namun bukan berarti dari proses politik praktis.  Pencampuran adminitrasi dan politik banyak dijumpai dalam penyelengaraan pemerintahan. Hingga saat ini masih dijumpai pelaksanaan adminstrasi negara "disandra" oleh kepentingan politik.

Proses politik di Indonesia ering kali tidak selesai setelah proses pemilu.  Kita masih melihat bahwa ada efek lain yang terjadi setelah pemilu. Perang kepentingan politik terus terjadi setelah pemilu yang kemudian membuat aparatur birokratnya menjadi kehilangan kenetralitasannya. Pengaruh-pengaruh aspek politis itu nampak jelas dalam administrasi kebijakan.

Seseorang yang menang dalam proses pemilihan kepala daerah misalnya, akan menempatkan orang-orangnya dalam jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan “membuang” lawan politiknya. Situasi ini mudah ditemukan dalam penyelengaraan pemerintah negara terutama pemerintah daerah. Praktek lain adalah intervensi partai politik dalam perekrutan tenaga pendamping desa. Pendamping desa dijadikan sebagai pion-pion partai politik pada level akar rumput.

Pada rezim orde baru organisasi birokrasi yaitu Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia (KORPRI) dijadikan bagian dari mesin politik Golkar. Pegawai negeri diharuskan untuk hanya menyalurkan aspirasi politik mereka melalui Golkar dengan memberlakukan kebijakan monoloyalitas. Selain itu, pejabat birokrasi direkrut menjadi pengurus politik dan dijadikan bagian dari faksi dalam Golkar di parlemen.

Membatasi Kepentingan Politik

Membebaskan administrasi negara dari kepentingan politik adalah pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai. Praktek seperti ini sudah berlangsung lama dan tumbuh subur dalam masa orde baru. Namun, untuk menghasilkan sebuah penerapan administrasi yang efisien, efektif sesuai dengan harapan publik intervensi politik harus dihilangkan.

Pertama, Hukum yang kuat. Hukum yang dimaksdkan adalah system penyelengaraan administrasi. Jorge Lowell dalam bukunya “Reformation birokrasi in globalitation era” (2001) berpendapat bahwa kesalahan terbesar bagi sakitnya birokrasi adalah kepada disfungsi systemnya. Ia berujar bahwa systemlah yang akan meregulasi para aparatur birokrasi menjadi lebih efektif.

Kedua, Aparatur Birokrasi. Analisis Hegelian menggambarkan bahwa administrasi negara atau birokrasi sebagai suatu jembatan antara negara dengan masyarakatnya (Thoha, 2014 : 20). Hegel menilai bahwa birokrasi seharusnya melayani kepentingan umum, karena kenyataan kebijaksaan negara sering kali hanya menguntungkan sekelompok orang saja dalam suatu masyarakat.

Sementara Max Weber, melihat birokrasi atau aparat pemerintah merupakan unsur penting bagi pertumbuhan dan perkembangan dari organisasi pemerintah. Weber menganggap bahwa birokrasi dibentuk harus independen dari kekuatan politik, artinya birokrasi pemerintah diposisikan sebagai kekuatan yang netral.

Netralitas birokrasi bukan diartikan untuk menjalankan kebijakan atau perintah dari kekuatan politik, tetapi lebih diutamakan kepada kepentingan negara dan rakyat secara keseluruhan. Sehingga siapapun kekuatan politik yang memerintah, birokrasi tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakatnya.

Ketiga, Budaya. Sofian Effendi (1995) menyebutkan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas administrasi negara adalah budaya patrimonial, dimana budaya organisasi birokrasinya masih banyak terikat oleh tradisi-tradisi politik ditambah lagi budaya masyarakat setempat yang seringkali tidak kondusif dan melanggar peraturan-peraturan yang telah ditentukan. Maka diperlukan adanya langkah langkah strategis antara lain;  Pertama, Merubah tekanan-tekanan sistem pemerintahan yang sifatnya sentralistik otoriter menjadi sistem pemerintahan desentralistik demokratis.

Kedua, Adanya kesadaran perubahan sikap dan perilaku dari aparat birokrasi pelayanan publik menuju model birokrasi yang lebih humanis (Post weberian). Ketiga, memperkuat aturan dan perundang-undangan yang menjadi landasan kerja bagi aparatur administarasi.

Keempat, menciptakan ruang saling pengertian dan pemahaman bersama (mutual understanding) antara pihak aparat aparatur administrasi dan masyarakat yang memerlukan pelayanan untuk mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku khususnya dalam pelayanan publik. (che)

KOMENTAR

Name

Budaya,4,Diary,18,Ecosoc Rights,2,Ekonomi Kreatif,1,HAM,1,Hukum,16,Kabar Desa,1,Kolom,3,Labuan Bajo,1,Newsroom,12,Opini,19,Politik,2,Sastra,8,Video,4,
ltr
item
Voxnesia: Dikotomi Politik dan Administrasi Negara
Dikotomi Politik dan Administrasi Negara
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6oioGJ92UorXZJ3LyB6GHmJBa_Uv7jmiidSm5pGcTF_tj123GaRgdEEvJ7zNRtBiIRMOtL0PfQnQIGCJXkp4e8VJMTslwz-o3kHNTT_q0-efZWfe7mkKqOu0dwS5X9iBXZJpmp8Zrl7o/s400/administrasi+negara.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6oioGJ92UorXZJ3LyB6GHmJBa_Uv7jmiidSm5pGcTF_tj123GaRgdEEvJ7zNRtBiIRMOtL0PfQnQIGCJXkp4e8VJMTslwz-o3kHNTT_q0-efZWfe7mkKqOu0dwS5X9iBXZJpmp8Zrl7o/s72-c/administrasi+negara.jpg
Voxnesia
https://dechelluz.blogspot.com/2018/03/dikotomi-politik-dan-administrasi-negara.html
https://dechelluz.blogspot.com/
https://dechelluz.blogspot.com/
https://dechelluz.blogspot.com/2018/03/dikotomi-politik-dan-administrasi-negara.html
true
7164258245190438750
UTF-8
Semua Postingan Tidak ditemukan postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Oleh Beranda LAMAN ARTIKEL Lihat Semua Rekomendasi FOTIK ARSIP PENCARIAN SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel yang sesuai Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy