Defisit Moral Umat Beriman



Moral dan iman harus selalu disandingkan, tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Moral yang benar adalah moral yang dilandaskan dan merupakan ungkapan iman. Demikian halnya tindakan harus selalu bersanding dengan nilai-nilai moral. Suatu tindakan dianggap “tersesat” jika bertentangan dengan visi utama moral yakni melakukan kehendak Allah. Oleh karena itu, tindakan semau gue, pemaksaan kehendak bertentangan dengan nilai-nilai moral. Karena prinsip ini akan menggiring seseorang ke lembah keegoisan dan kesombongan. Seseorangyang menganut prinsip semau gue akan bertindak tanpa kontrol, tidak bertanggungjawab!

Percampuran dan pertukaran ilmu pengetahuan telah merangsang manusia untuk berpikir lebih imajinatif dan kreatif. Daya berpikir inilah yang memampukan manusia menemukan disiplin ilmu baru: manusia tidak hanya stagnan pada keberhasilan-keberhasilan para pendahulunya. Namun, ketika manusia mampu mencipta dan daya berpikirnya semakin canggih, manusia kadangkala jatuh ke lembah kesombongan; saat itulah nilai-nilai moral dan norma-norma tradisional semakin digusur.

Akhir-akhir ini, tatanan moral semakin tidak dihiraukan. Semakin banyak manusia yang hidup seolah Tuhan tidak ada. Akibatnya, manusia menjadi “Tuhan” bagi dirinya sendiri, sehingga segalanya boleh dilakukan (permisif). Sebagian masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya, menjadi begitu kejam: yang diusung dalam menyelesaikan masalah adalah kekerasan dan bukan dialog yang dilandasi cinta. Singkatnya, manusia dewasa ini banyak yanglebih memilih sikap hostility daripada sikap hospitality (meminjam istilah Paul Ricoeur). Sikap yang kian terbangun adalah sikap curiga, sikap solipsis, sikap berprasangka buruk (negative thinking, su’udzon) dan bukan sikap berprasangka baik (positive thinking, husnu’dzon). Oleh karena itu, kita tidak heran lagi jika para teroris semakin leluasa melancarkan aksinya yang mengakibatkan pertumpahan darah dan kekerasan terjadi di mana-mana. Melihat situasi seperti ini, barangkali ada benarnya pendapat Thomas Hobbes: “homo homini lupus”, manusia adalah serigala bagi manusia lain atau teori Darwin tentang “survival of the fittest”, yang kuat dialah yang menang.

Tergusurnya moral bisa jadi disebabkan oleh kesadaran-kesadaran baru manusia dewasa ini yang berusaha mereduksi segalanya menjadi kesadaran subjektivitas. Kesadaran-kesadaran baru tersebut dapat kita tinjau dengan adanya fenomena-fenomena baru serta gerakan masyarakat yang menghendaki adanya perubahan.

Perubahan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama, fenomena dan kesadaran dalam tataran kehidupan sosial. Masyarakat yang merasa didominasi oleh lembaga agama dan pemerintahan berusaha membebaskan diri dari segala yang mereka anggap sebagai yang mengekang gerak hidup, sehingga mereka merasa tidak bebas. Oleh karena itu, mereka melakukan segala cara untuk membebaskan diri dari segala yang membelenggu, kadangkala tindakan anarkis pun dijadikan salah satu pilihan.

Kedua, gejala yang terjadi di kalangan kaum muda: banyak kaum muda yang lebih memilih prinsip pro-choice daripada prinsip pro-life. Akibatnya, pembunuhan ala teroris, aborsi dan euthanasia dianggap bukan tindakan yang salah karena itu merupakan salah satu bentuk pilihan pribadi (self-choice), keputusan atas dasar kebebasan (freedom). Jadi, kebebasan telah direduksi menjadi kebebasan psikologi, kebebasan semau gue.

Ketiga, revolusi dan kecanggihan teknologi justru melahirkan problem baru: senjata menjadi alat membasmi musuh, membasmi manusia yang seharusnya dilindungi dan dicintai. Saat keegoisan kian membelenggu manusia, saat itulah dimensi kebebasan beradab berubah menjadi kebebasan biadab. Di tengah dunia yang seolah serba gelap ini, umat beriman idealnya tidak boleh diam, tetapi harus berpartisipasi dalam memperjuangkan perdamaian (rekonsiliasi) dan nilai-nilai moral ditengah masyarakat Indonesia yang ragam budaya, adat dan Agama.

Awalnya, kita bangga pada revolusi ekonomi, industri dan kultural, karena seolah peluang untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin terpenuhi. Namun, zaman keemasan itu berubah menjadi zaman kecemasan: akibat dari kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia menjadi kacau balau. Perang seolah tak pernah sepi. Jadi, diera pasca-zaman keemasan terjadi degradasi moral manusia menuju sikap destruktif. Singkatnya, kesadaran-kesadaran baru atau worldview-worldview baru selalu melahirkan problem moral baru.

Tidak sedikit orang  susah membedakan mana keadilan dan ketidak-adilan, mana yang baik dan benar dan mana yang buruk dan salah. Sekarang yang terjadi justru yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Seolah kebenaran tergantung pada otoritas dan argumen sipemilik kepentingan. Di tengah dunia yang kacau balau itu, tentu pemikiran yang netral yang perlu dilihat adalah sisi moralitas. Kejahatan semakin menjadi-jadi karena manusia semakin jauh dari nilai-nilai moral, nilai-nilai iman dan cinta tanpa syarat. 




KOMENTAR

Name

Budaya,4,Diary,18,Ecosoc Rights,2,Ekonomi Kreatif,1,HAM,1,Hukum,16,Kabar Desa,1,Kolom,3,Labuan Bajo,1,Newsroom,12,Opini,19,Politik,2,Sastra,8,Video,4,
ltr
item
Voxnesia: Defisit Moral Umat Beriman
Defisit Moral Umat Beriman
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhk31tr0ekRfkSPOcrZSEDZ3bVkG32ElHaj9Mshqa28kp4sboMxJ6xnSdPwJB1cRQhY62SLfNGHnpgiMynNwaCPYDfMFI5dhuC1byjwjpeuwId3mgTxtt02rifcLQjXQXe4putW7fogXY/s400/ki.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhk31tr0ekRfkSPOcrZSEDZ3bVkG32ElHaj9Mshqa28kp4sboMxJ6xnSdPwJB1cRQhY62SLfNGHnpgiMynNwaCPYDfMFI5dhuC1byjwjpeuwId3mgTxtt02rifcLQjXQXe4putW7fogXY/s72-c/ki.jpg
Voxnesia
https://dechelluz.blogspot.com/2018/03/defisit-moral-umat-beriman.html
https://dechelluz.blogspot.com/
https://dechelluz.blogspot.com/
https://dechelluz.blogspot.com/2018/03/defisit-moral-umat-beriman.html
true
7164258245190438750
UTF-8
Semua Postingan Tidak ditemukan postingan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Oleh Beranda LAMAN ARTIKEL Lihat Semua Rekomendasi FOTIK ARSIP PENCARIAN SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel yang sesuai Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy