Oleh : Efraim Mbomba Reda
Suasana Nyepi Tahun 2018 di Bali kali ini memberikan cerita yang berbeda dari Nyepi di tahun - tahun sebelumnya. Itulah yang dirasakan oleh seorang lelaki berwajah oval dengan perasaan yang kian saat semakin tidak menentu. Bukan karena pada Nyepi kali ini seluruh masyarakat Bali akan puasa internet, tetapi karena ada yang hilang dari dirinya.
Keresahannya timbul dikarenakan gadis empat mata, kekasihnya, yang sudah ia banggakan selama ini sebagai kekasih terhebat di dunia, kini tidak bisa ia hubungi. Gadisnya itu hilang entah dimana, dan itu sangat meresahkan dirinya. Ia merasa kehilangan, ia rindu pada gadisnya. Lelaki yang membenci Dillan itu tetap tidak mau menyadari suatu yang benar yang disampaikan oleh Dillan. 'Ternyata rindu itu memang berat', dengan terpaksa ia percaya.
Entah kapan mereka bertemu, yang diingat oleh lelaki itu adalah ia tidak pernah menyimpan perasaan apa - apa saat mereka bertemu. Dengan latar belakangnya yang memiliki banyak kekasih, ketika bertemu wanita ia merasa semuanya bisa ia miliki. Itulah yang membuat ia bersikap dingin. Sikap dinginnya membuat banyak wanita tertarik. Ia lelaki flamboyan yang mengejutkan. Disenangi banyak orang.
Bertemu gadis dengan keutamaan hidupnya adalah berdoa tersebut, membuat dunia asmara lelaki itu menjadi lebih tertata. Mereka akhirnya berpacaran. Dikisahkan, banyak orang terkejut karena mendengar informasi yang beredar bahwa mereka sudah berpacaran. Yang membuat orang terkejut adalah bagaimana mungkin gadis dengan atitude yang begitu bagus, dengan hati seputih salju, dan senyum yang begitu menawan itu mau menjalin hubungan dengan seorang lelaki dengan potensi selingkuhnya tinggi, dengan hasrat yang begitu liar dan dihimpit oleh banyak wanita.
Ketika gadis empat mata tersebut menerima ungkapan cinta dari lelaki itu sebagai tanda beralihnya status dari teman menjadi kekasih, itu memang sungguh - sungguh mengejutkan. Sama seperti kemenangan Donal Tramp melawan Hilary Clinton pada pemilihan Presiden Amerika beberapa waktu lalu. Di luar dari spekulasi sebagian besar pengamat politik. Di luar dari dugaan banyak orang. Begitulah cinta mereka.
Gadis itu akhinya banyak membawa perubahan untuk lelaki tersebut. Hari demi hari hasrat untuk berselingkuh dari lelaki itu menjadi berkurang, ia membatasi diri untuk berelasi dengan wanita - wanita yang menyukainya bahkan mulai berpikir tentang masa depannya dengan gadis itu. Sempat terbayang dalam benaknya bahwa ia dan kekasihnya itu akan memiliki empat orang anak, penuh kebahagiaan, sejahtera, bila perlu berada. Janjinya pada diri sendiri.
Kini gadisnya itu hilang entah dimana. Tanpa kabar, tanpa menyimpan tanda - tanda bahwa ia akan dihubungi lagi oleh kekasihnya itu. Begitu mengejutkan dan menantang. Tapi ia tak bisa menupu perasaannya sendiri, jauh di lubuk hati yang paling dalam, itu menyakitkan. Ia tetap berusaha bijaksana, meminimalisir spekulasi yang tidak - tidak yang ia ciptakan sendiri.
Nyepi di Tahun 2018 ini menjadi berbeda dari Nyepi - Nyepi sebelumnya. Soalnya adalah ada yang hilang saat ini. Dan yang hilang itu adalah cintanya. Kalaupun gadis empat mata yang sebelumnya sudah dibanggakan oleh dirinya sebagai kekasih terhebat di dunia itu, meniggalkan dirinya yang menjadi sial adalah hasratnya untuk bercumbu dengan gadis lain telah hilang, bahkan punah. Gadisnya itu meninggalkan dirinya dengan keadaan ia tak lagi ingin berhubungan dengan yang lain, selain gadisnya itu.
Di luar, macet menghiasi jalan - jalan di Bali. Semua orang sibuk mempersiapkan banyak hal menjelang Nyepi. Ogo - ogo terlihat dimana - mana, terpampang di jalan - jalan raya. Tampak seluruh masyarakat Bali penuh persiapan untuk membersihkan hati, sebagaimana esensi dari Nyepi itu. Di pantai Kuta, sepi menekan medesak, hanya sedikit orang menikmati pantai disana, tak seperti biasanya. Barangkali pantai Kuta lebih dahulu menjalankan Nyepi, karena bosan melihat tabiat bule - bule yang makin amoral. Lelaki itu semakin tersudutkan, jauh di dasar hatinya, ia mengharapkan gadisnya datang kembali. Dengan cinta, kasih sayang, dan kebiasaan berdoa yang masih sempurna. Seperti sebelumnya.
Efraim Mbomba Reda, Penulis Novel Pikiran Itu Nyata

KOMENTAR