Beberapa waktu lalu, saya bersama seorang sahabat dijejaring
sosial (Facebook) saling menyapa, saling menanyakan kabar dan sedikit curhat
kecil yang membawa kami pada perbincangan soal Cinta, Sayang dan Kasih.
Saya
merasakan sahabat yang berada di kota luar jawa ini berbicara dengan melibatkan
hatinya, jujur, rendah hati serta taat pada norma-norma agamanya.
Setelah sahabat ini pamitan untuk beristrahat malam, saya
kemudian sadar ternyata curhat singkat itu penuh makna. Ini soal “Cinta;
Rasional juga melibatkan Hati”. Perbincangan kami seolah menggugat ungkapan bahwa
CINTA ITU BUTA.
Sesunguhnya, Cinta Itu tidak buta tapi sangat rasional yang
seutuhnya melibatkan hati. Cinta adalah sesuatu yang mulia, luhur dan
wajar. Yang buta adalah jika cinta itu menguasai diri kita tanpa
mempertimbangkan secara rasional. Cinta Menarik manusia dari mementingkan
diri sendiri (Egois) menuju tindakan mencintai demi pribadi yang dicintai.
Saya menemukan dua hal penting dari curhat sabahat saya itu.
Pertama, “Cinta keinginan”. Perasaan cinta berangkat dari obyek tertentu
bagi orang yang dicintai. “Cinta keinginan” kebaikan selalu digerakan oleh
kebaikan. Dalam konteks ini, saya mencintai orang lain karena ia adalah ia.
Dengan kata lain saya mencintai seorang bukan karena “ada apanya” tapi “apa
adanya”.
Kedua adalah “Cinta Kebaikan Hati”. Mencintai demi pribadi
yang dicintai. Misalnya mencintai orang miskin atau yang berkekurangan maka
perlu mewujudkannya dengan memberi berupa barang ataupun uang. Pemberian itu
mesti dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih, tanpa ingin dikenal sebagai
dermawan atau karena motif politik. Dalam Konteks ini Cinta yang tumbuh itu
benar benar untuk pribadi yang dicintai.
Dalam perbincangan singkat kami itu, ternyata tanpa disadari
kami telah menemukan bahwa cinta yang rasional selalu bermuara pada
kebaikan untuk orang yang dicintai. Ia tidak menutup diri. Ia juga tidak
menghitung untung rugi, tapi ia membawa pada suatu kemurahan hati dan
pengorbanan. Jalinan cinta antarsahabat, antarkeluarga, dan antarwarga
masyarakat akan mempesona kalau dilandasi oleh “cinta kebaikan hati”.
Itulah
Cinta yang berakar dalam kata dan berbuah dalam prilaku. Ini tangung jawab
moral kita.

KOMENTAR