Seorang teman beberapa waktu lalu bercitra
tentang sepatu barunya. Ia mengarahkan perhatian saya ke arah kedua kakinya
yang sedang mengenakan sepatu baru sore itu, tentu sepatu “bermerek” jenis pantofel.
Ia baru membeli dari disebuah gerai mall ternama yang sedang melakukan diskon
besar-besaran. Ia berhasil membeli dengan harga1 juta, itu harga diskon.
Padahal menurut dia harga aslinya berkisar 3-4 juta. Ia bersyukur berhasil
membeli.
Sepatu baru itu bukan satu-satunya sepatu yang
ia miliki. Ia masih mempunyai beberapa sepatu lain yang jenis pantofel dan
jenis lain yang memiliki nilai sosial yang tinggi, namun memiliki sepatu “bermerek” itu adalah impian sejak lama. Ketika
mendengar kabar diskon besar-besaran tentu saja menjawab kerinduan-nya.
Ditengah perbincangan sepatu baru yang
“bermerek” itu, saya menyempatkan melirik sepatu saya kemudian sesekali kembali
memandang sepatu harga 3 juta itu. Fungsi (inheren) keduanya memang sama, namun
fungsi sosialnya tentu berbeda. Sepatu saya harganya 200 ribu, namun dibeli
dengan harga 125 ribu setelah berhasil bernegosiasi dengan pedagangan, secara sosial
tentu kalah saing dengan sepatu barunya.
Hemmm…..Apakah teman saya terperangkap dalam
pusaran dan perkembangan gaya hidup atau saya yang kurang “gaul” juga tidak modal?.
Tulisan kecil ini tidak bermaksud menyudutkan
teman saya itu. Anggap saja tulisan ini bagian dari kecemburuan saya yang tidak
mampu mengjangkau “sepatu 3 juta” itu. Saya melihat cerita ini dari sudut pandang
sosiologi ekonomi dari pergaulan manusia dewasa ini.
Nah saya berpikir kisah teman saya diatas, bisa jadi sebuah potret kecil
masyarakat yang kian tak berdaya dalam cengkraman kekuatan kapitalis yang
sangat kreatif menawarkan produk-produk yang menarik dan seolah harus menjadi
kebutuhan konsumen. Kebutuhan untuk menampilkan citra secara personal,
kedirian, keunikan atau image-nya dihadapan kelompok sosialnya, kebelengguan
dalam gaya hidup ini terus terjadi seolah tak pernah putus.
Ketika memutuskan membeli sepatu baru,
seringkali bukan karena sepatu lamanya rusak atau tidak lagi bisa digunakan,
melainkan lebih banyak didorong oleh kebutuhan untuk menjaga citra diri, image
bahwa ia bukan termasuk orang yang ketinggalan jaman atau sebetulnya ia sedang
menjaga citra sebagai bagian dari kelompok kelas sosial atas yang selayaknya
memiliki sepatu “bermerek”.
Ketika seseorang mengkonsumsi sesuatu, bukan sekedar hanya ingin membeli fungsi pertama atau fungsi inheren dari produk yang dibelinya itu, tetapi sebetulnya ia juga berkeinginan untuk membeli fungsi sosialnya. Artinya, seorang membeli sepatu tidak hanya karena ia sedang butuh sepatu tetapi juga karena didorong tujuan-tujuan sosial yang lain, seperti pretise, kepentingan untuk memperoleh modal social sebagai pintu masuk membangun sebuah relasi dengan kelompoknya, dan lain sebagainya.
Saat ini, dibawah cengkraman kapitalis, membeli
barang sesungguhnya juga membeli kesan dan pengalaman, dan kegiatan belanja
bukan lagi suatu transaksi ekonomi sederhana, melainkan lebih pada interaksi
simbolis dimana individu membeli dan mengonsumsi kesan.
Inilah adalah gaya hidup. Gaya hidup (life style) tentu berbeda dengan cara
hidup (way of life). Gaya hidup menampilan
ciri-ciri seperti; norma, ritual, pola tatanan sosial. Sementara gaya hidup
disekspresikan melalui apa yang dikenakan seseorang, apa yang ia konsumsi dan
bagaimana ia bersikap dan berperilaku ketika ada dihadapan orang lain. Gaya
hidup dikembangkan oleh kekuatan capital untuk kepentingan membangun
agresivitas masyarakat dalam mengonsumsi berbagai produk industri.
Gaya hidup adalah ciri sebuah dunia modern atau
modernitas. Artinya, siapapun yang hidup dalam masyarakat modern, akan
mengunakan gagasan tentang gaya hidup untuk mengambarkan tindakannya sendiri
maupun orang lain.
Gaya hidup dan perilaku konsumtif merupakan dua
sisi mata uang yang menjadi habitat subur bagi pekembangan kapitalis. Saat ini,
tidak ada orang bergaya tanpa modal. Seseorang dikatakan memiliki gaya hidup
yang modern, ketika ia mengkonsumsi atau memamerkan simbol-simbol ekonomi yang
berkelas. Misalnya, seseorang yang minum kopi di starbuck yang harga secakirnya
50 ribu, tentu lebih bergaya dengan minum kopi di warung pinggir jalan dengan
harga cuma sepersepuluhnya.
Gaya hidup merupakan bagian dari kerangka utama untuk menata dan memanipulasi identitas sosial. Dalam konteks ini penampilan luar menjadi penting karena selain menjadi sumber makna, juga menyebabkan orang menilai diri sendiri dan orang lain berdasarkan penampilan luar. Dengan kata lain, perbedaan gaya hidup akan terfokus pada manipulasi dan interpretasi penampilan luar. (Che)

KOMENTAR