![]() |
| Kampung Wisata, Plawa, Toraja Utara |
Tana Toraja merupakan
objek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Awal tahun ini saya punya
kesempatan berkunjung ke kecamatan Sesean Kabupaten Toraja Utara. Toraja Utara
merupakan daerah otonom hasil pemekaran kabupaten tanah Toraja yang terletak
sekitar 380 km sebelah utara Makassar. Wilayah Toraja secara keseluruhan sangat
terkenal dengan bentuk bangunan rumah adat serta Upacara Pemakamannya.
Jika anda ingin berwisata Ke Tana Toraja
dapat menggunakan penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. selama
45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dapat pula ditempuh
dengan kendaraan darat, membutuhkan waktu 8-10 jam perjalanan. Jika anda
memilih jalur transportasi darat sepanjang perjalanan dari makasar anda akan menikmati
pemandangan yang indah, di wilayah pare pare anda akan melintas sepanjang
pantai dan sebelum memasuki Kabupaten Enrekang anda dapat menikmati
keistimewaan dan keindahan khas Gunung Buttu
Kabobong , yang bentuknya mirip mahkota.
Menurut mitos yang diceritakan dari generasi ke generasi, nenek moyang asli orang Toraja turun langsung dari surga dengan cara menggunakan tangga, di mana tangga ini berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (satu-satunya Tuhan).
Masyarakat Toraja menganut “aluk” atau adat yang merupakan
kepercayaan, aturan, dan ritual tradisional ketat yang ditentukan oleh nenek
moyangnya. Meskipun saat ini mayoritas masyarakat Toraja banyak yang memeluk
agama Protestan atau Katolik tetapi tradisi-tradisi leluhur dan upacara ritual
masih terus dipraktekkan.
Masyarakat Toraja membuat pemisahan yang jelas antara upacara
dan ritual yang terkait dengan kehidupan dan kematian. Hal ini karena
ritual-ritual tersebut berterkaitan dengan musim tanam dan panen. Masyarakat
Toraja sendiri mengolah sawahnya dengan menanami padi jenis gogo yang tinggi
batangnya. Di sepanjang jalan akan Anda temui padi dijemur dimana batangnya
diikat dan ditumpuk ke atas. Padi dengan tangkainya tersebut disimpan di
lumbung khusus yang dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan serta rahang
kerbau dibagian sampingnya.
Tana Toraja memiliki dua jenis upacara adat yang populer yaitu
Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo adalah upacara pemakaman, sedangkan Rambu
Tuka adalah upacara atas rumah adat yang baru direnovasi.
Khusus Rambu Solo, masyarakat Toraja percaya tanpa upacara
penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan
kemalangan kepada orang-orang yang ditinggalkannya. Orang yang meninggal hanya
dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan
seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau
beragam sesajian lainnya.Upacara pemakaman Rambu Solok adalah rangkaian
kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap, tubuh
orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau
tongkonan. Puncak upacara Rambu Solok biasanya berlangsung pada bulan Juli dan
Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang
kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini. Kedatangan orang Toraja
tersebut diikuti pula dengan kunjungan wisatawan mancanegara.
Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada
prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya
untuk sampai menuju nirwana. Bagi kalangan dari bangsawan yang meninggal maka
mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu
diantaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya. Upacara
pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan
menebas leher kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan
lalu kerbau pun langsung terkapar bermandikan darah beberapa saat kemudian.
Masyarakat Toraja hidup dalam komunitas kecil dimana anak-anak
yang sudah menikah meninggalkan orangtua mereka dan memulai hidup baru ditempat
lain. Meski anak mengikuti garis keturunan ayah dan ibunya tetapi mereka semua
merupakan satu keluarga besar yang tinggal di satu rumah leluhur (tongkonan). Tongkonan merupakan
pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah
penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Oleh karena itu, semua anggota
keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.
Tanah Toraja sendiri kini terbagi dalam dua wilayah Kabupaten,
yaitu Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan Toraja Utara dengan ibu kota
Rantepao. Berikut ini beberapa objek menarik yang dapat memberi Anda kesan saat
berkunjung ke Tana Toraja.
Kubur Batu
Orang toraja memiliki berbagai cara untuk menguburkan kerabat
mereka yang sudah meninggal. Salah satunya dengan membuat kuburan batu. Batu
yang digunakan berjenis batu karang yang besar. Batu tersebut di
lubangi dengan pahat dengan pengerjaan memakan waktu lama, bisa berbulan
bulan tergantung ukuran dan luas ruangan yang akan dipahat di dalam batu. Dalam
batu akan dibuat ruangan ruangan untuk menyimpan jenasah, ada yang berukuran
3×4 meter atau bahkan lebih, tergantung berapa jenasah yang akan dikuburkan
dalam satu ruangan.
Di kampung Batutumonga kecamatan sesean kabupaten Toraja utara
saya temukan kuburan batu. Letak batu yang dijadikan makam sangat beragam,
ada ditebing, pingir jalan raya, bukit, tegah sawah bahkan dekat rumah
penduduk. Setiap tahun ada sebuah tradisi pergantian baju mayat. (Che)

KOMENTAR