Keterampilan menenun bagi masyarakat Toraja juga masyarakat lain di
Indonesia identik dengan pekerjaan perempuan. Anak laki-laki jarang belajar menenun. Sesuai dengan tradisi, menenun adalah tugas perempuan. Laki-laki dianggap tidak pantas untuk melakukan pekerjaan yang merupakan tugas perempuan.Ini merupakan
konsekuensi dari berlakunya tradisi dalam masyarakat yang membagi pekerjaan
berdasarkan jenis kelamin. Namun di Toraja Utara saya mendapatkan pengalaman yang lain. Disini seorang pemuda berani
menerobos tradisi itu.
Antonius Pulo (33 tahun), laki-laki asal kampung
Annoni, lembang (desa) Tiroallo, kecamatan Sa’dan, Kabupaten Toraja Utara, yang menerobos tradisi ini.
Dialah satu-satunya laki-laki di kampungnya yang berani melawan tradisi. Antonius yang tamatan SMA ini sudah mulai belajar menenun saat duduk di bangku SMP. Ia belajar menenun dari ibunya. Ketika di SMA ia sudah mahir dalam menenun. Kegiatan menenun dilakukannnya sepulang sekolah, bergantian dengan ibunya. Ia menenun untuk membantu ibunya. Sejak melakukan kegiatan menenun, ia banyak mendapat ejekan dari teman temannya. Namun ia tak pernah menghiraukannya. Ejekan itu belum juga reda sampai sekarang. Meski demikian, ia tetap memegang teguh prinsip bahwa menenun adalah sumber pendapatan untuk keberlangsungan hidup keluargannya.
Dalam konteks tradisi
masyarakat Toraja yang memegang teguh tradisi, Antonius menurutku adalah
laki-laki luar biasa. Ia bukan hanya punya keberanian untuk melakukan kegiatan
yang tak lazim dilakukan lelaki di daerahnya, tetapi ia juga berani
menyampaikan gagasan pada orang-orang di sekitarnya bahwa menenun adalah
pekerjaan yang menyenangkan. Menenun, menurutnya, bisa dipelajari oleh
siapapun, baik laki laki maupun perempuan. Ia berpendapat, kalau ada kemauan
tidak ada salahnya laki-laki belajar menenun dan tidak ada salahnya juga kalau
laki-laki bekerja sebagai penenun.
Selepas SMA, Antonius
meninggalkan kegiatan menenun. Ia pergi merantau dan menjadi TKI di Malaysia.
Sayang, kerja bertahun-tahun di Malaysia tak membuahkan hasil. Ia tinggalkan
Malaysia dan kemudian hijrah ke Palopo. Di sana ia bertemu dengan Agnes Bunga
Rombe Magande, perempuan yang kini menjadi istrinya. Tahun 2003 mereka menikah dan
Antonius memboyong Agnes ke kampung halamannya, Unnoni, pedalaman Toraja Utara.
Agnes sendiri merupakan perempuan
kelahiran Palopo hanya lulusan SD. Tak ada pekerjaan
yang bisa dilakukannya selain mengurus rumah tangga. Pertama kali datang di
kampung Unnoni, ia sama sekali tidak punya ketrampilan menenun. Sebab ia bukan
berasal dari keluarga yang punya tradisi menenun. Pertama kali
mengenal tenun sejak ia diboyong ke Unnoni dan tinggal di rumah mertuanya.
Sejak itu Agnes setiap hari melihat ibu mertuanya menenun. Dari situlah ia
mulai tergerak untuk belajar menenun.
“Awal awal sering salah tapi saya terus belajar sampai bisa. Saat itu saya berpikir, dengan tenun saya bisa membantu suami mencari uang”, tutur Agnes.
“Awal awal sering salah tapi saya terus belajar sampai bisa. Saat itu saya berpikir, dengan tenun saya bisa membantu suami mencari uang”, tutur Agnes.
Awalnya Antonius meragukan
keseriusan istrinya dalam belajar menenun. Ia menyadari, istrinya belum
pernah tahu soal tenun. Namun setelah melihat keseriusan istrinya dalam
belajar bertenun, ia pun mulai serius mengajarkan ketrampilan bertenun
pada sang istri. Istrinya mengaku, selama mengajarinya bertenun, Antonius
sering membetulkan posisi benang, memperbaiki benang yang putus, dan
mengajarkan bagaimana cara menenun yang baik. Selama tiga bulan Antonius
melatih istrinya agar trampil dalam menenun. Kini, istrinya sudah mahir
dalam menenun.
Dalam sebulan Antonius dan istrinya bisa menghasilkan 3-4 lembar kain tenun, yang dijual dengan harga 150.000 hingga 300.000 per-lembar tergantung motif dan ukuran. Mereka lebih sering menenun motif pa’miring karena lebih banyak peminatnya dan lebih cepat menghasilkan uang karena tidak butuh banyak waktu untuk mengerjakannya. (Che)

KOMENTAR