Gerobak penuh sampah plastik terparkir depan Kantor Komisi Hak Asasi Manusia, jalan Latuharhari Jakarta, selasa 6 Maret kemarin.
Nama Pemiliknya Samsiah, tengah bersantai disamping Gerobaknya. Samsiah hari itu ditemani anak laki lakinya yang tengah tertidur pulas di dalam Gerobak. Sekitar satu jam lamanya ibu dan anak ini beristrahat, sebelum mereka melanjutkan perjalanan mencari barang bekas.
Hari itu janda dengan dua orang anak itu mencari barang barang bekas disepanjang jalan Latuharhari kemudian sorenya Ia menyetor ke pemilik lapak di Manggarai.
“Setelah ini harus berjalan lagi, mencari barang barang bekas, hari ini harus dapat banyak karena anak sulung saya sedang sakit” kata Samsiah, Ia dengan enteng menarik gerobaknya yang sarat dengan sampah plastik dan kardus bekas beraneka ragam
"Saya boleh ambil foto sebentar" kataku meminta ijin pada samsiah.
"Silakan mas, banyak kok yang suka foto foto kami dijalanan" kata samsiah
Samsiah yang suka ngobrol itu adalah satu dari puluhan ribu manusia gerobak yang setiap hari melintas di raus jalan kota Jakarta. Komunitas manusia gerobak dan para pemulung juga sering dijumpai di Stasiun Cikini, mereka mencari barang barang bekas dengan gerobak.
Didalam gerobak itu terkadang ada pula anak anak mereka yang masih berusia balita dan anak anak. Jika bersama suami, sang istri biasanya berada di belakang seolah mengawasi dari belakang gerobak yang di tarik sang suami.
Fenomena "Manusia Gerobak" adalah fenomena yang lazim dijumpai di jalan jalan kota Jakarta. Disebut manusia Gerobak karena gerobak adalah ciri khas mereka.
Gerobak ukuran sekitar 1 x 2 meter tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat barang barang bekas yang mereka peroleh untuk kemudian di jual lagi, tapi memiliki multifungsi, yatni sebagai tempat tidur, tempat menaruh piring gelas dan kebutuhan sehari hari, Gerobak merupakan rumah untuk mereka.
"Manusia Gerobak" adalah sekelompok manusia korban pengusuran, hidup tidak menetap banyak anak anak ikut bersama orang tuanya kesana kemari dengan gerobaknya.
Pada mulanya para pekerja informal yang juga memiliki rumah tinggal kendati hanya mengontrak dan kontrakan mereka mungkin diatas lahan ilegal. Disana mereka memiliki fasilitas listrik juga air. Anak anak merekapun bisa bersekolah. Tapi, karena hunian mereka diangap ilegal, mereka digusur.
Ketika menjadi manusia gerobak mereka tak perna tergusur lagi karena tak memiliki rumah, gerobak adalah rumah mereka yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Dikatakan "Manusia Gerobak" kerena mereka tidak memiliki tempat tinggal. Gerobak itu adalah rumah mereka.
Gerobak biasa diparkirkan diemperan toko, taman, pasar, kolong jebatan atau stasiun. Untuk keperluan mandi atau buang air biasanya dilakukan di terminal atau stasiun karena cukup hanya membayar seribu atau dua ribu rupiah.
Di Jakarta Selatan komunitas "Manusia Gerobak" mudah dijumpai dibawah jembatan layang kebayoran atau di bawah kolong jalan simatupang. Mereka mulai beroperasi sekitar pukul 06.00 pagi dan pulang sekitar pukul 19.00 malam.
Merebaknya "Manusia Gerobak" disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya makin meningkatnya barang barang bekas seiring makin naiknya tingkat konsumsi warga jakarta. Kemudian peerjaan ini tidak membutuhkan modal dan resio pekerjaan ini kecil.
Fakor lainya adalah pilihan bekerja tidak dibawah tekanan atau menjadi “manusia bebas” tanpa ikatan atau paksaan dari siapapun.
"Manusia Gerobak" selalu mendatanggi sejumlah tempat yang selalu ada dan berpotensi menyediakan barang bekas yang masih layak dijual, misalnya jalan raya, Pasar, pemukiman warga dan tempat penampungan sampah.
Paling mengkhatirkan dari "Manusia Gerobak" adalah nasib anak anak mereka, praktis tidak sekolah dan tak tersentuh pelayanan kesehatan. Dalam jangka panjang, ini otomatis akan menimbulkan masalah baru karena tanpa pendidikan mereka sulit akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik
Maraknya "Manusia Gerobak", seperti halnya anak jalanan, gelandangan dan pengemis merupakan problem ibu kota. Dari prespektif HAM itu merupakan bentuk kelalaian negara.
Hak yang yang paling tercabut dari mereka menurutnya adalah hak atas kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Mereka tidak memiliki akses pendidikan, pekerjaan ataupun akses perumahan yang mestinya menjadi kewajiban negara untuk menyediakannya.
Artikel ini pernah dimuat di ucanews.com dengan judul 'Long days, anxious nights for 'cart people'
Nama Pemiliknya Samsiah, tengah bersantai disamping Gerobaknya. Samsiah hari itu ditemani anak laki lakinya yang tengah tertidur pulas di dalam Gerobak. Sekitar satu jam lamanya ibu dan anak ini beristrahat, sebelum mereka melanjutkan perjalanan mencari barang bekas.
Hari itu janda dengan dua orang anak itu mencari barang barang bekas disepanjang jalan Latuharhari kemudian sorenya Ia menyetor ke pemilik lapak di Manggarai.
“Setelah ini harus berjalan lagi, mencari barang barang bekas, hari ini harus dapat banyak karena anak sulung saya sedang sakit” kata Samsiah, Ia dengan enteng menarik gerobaknya yang sarat dengan sampah plastik dan kardus bekas beraneka ragam
"Saya boleh ambil foto sebentar" kataku meminta ijin pada samsiah.
"Silakan mas, banyak kok yang suka foto foto kami dijalanan" kata samsiah
Samsiah yang suka ngobrol itu adalah satu dari puluhan ribu manusia gerobak yang setiap hari melintas di raus jalan kota Jakarta. Komunitas manusia gerobak dan para pemulung juga sering dijumpai di Stasiun Cikini, mereka mencari barang barang bekas dengan gerobak.
Didalam gerobak itu terkadang ada pula anak anak mereka yang masih berusia balita dan anak anak. Jika bersama suami, sang istri biasanya berada di belakang seolah mengawasi dari belakang gerobak yang di tarik sang suami.
| Samsiah Bersama anaknya beristrahat sejenak |
Fenomena "Manusia Gerobak" adalah fenomena yang lazim dijumpai di jalan jalan kota Jakarta. Disebut manusia Gerobak karena gerobak adalah ciri khas mereka.
Gerobak ukuran sekitar 1 x 2 meter tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat barang barang bekas yang mereka peroleh untuk kemudian di jual lagi, tapi memiliki multifungsi, yatni sebagai tempat tidur, tempat menaruh piring gelas dan kebutuhan sehari hari, Gerobak merupakan rumah untuk mereka.
"Manusia Gerobak" adalah sekelompok manusia korban pengusuran, hidup tidak menetap banyak anak anak ikut bersama orang tuanya kesana kemari dengan gerobaknya.
Pada mulanya para pekerja informal yang juga memiliki rumah tinggal kendati hanya mengontrak dan kontrakan mereka mungkin diatas lahan ilegal. Disana mereka memiliki fasilitas listrik juga air. Anak anak merekapun bisa bersekolah. Tapi, karena hunian mereka diangap ilegal, mereka digusur.
Ketika menjadi manusia gerobak mereka tak perna tergusur lagi karena tak memiliki rumah, gerobak adalah rumah mereka yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Dikatakan "Manusia Gerobak" kerena mereka tidak memiliki tempat tinggal. Gerobak itu adalah rumah mereka.
Gerobak biasa diparkirkan diemperan toko, taman, pasar, kolong jebatan atau stasiun. Untuk keperluan mandi atau buang air biasanya dilakukan di terminal atau stasiun karena cukup hanya membayar seribu atau dua ribu rupiah.
Di Jakarta Selatan komunitas "Manusia Gerobak" mudah dijumpai dibawah jembatan layang kebayoran atau di bawah kolong jalan simatupang. Mereka mulai beroperasi sekitar pukul 06.00 pagi dan pulang sekitar pukul 19.00 malam.
Merebaknya "Manusia Gerobak" disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya makin meningkatnya barang barang bekas seiring makin naiknya tingkat konsumsi warga jakarta. Kemudian peerjaan ini tidak membutuhkan modal dan resio pekerjaan ini kecil.
Fakor lainya adalah pilihan bekerja tidak dibawah tekanan atau menjadi “manusia bebas” tanpa ikatan atau paksaan dari siapapun.
"Manusia Gerobak" selalu mendatanggi sejumlah tempat yang selalu ada dan berpotensi menyediakan barang bekas yang masih layak dijual, misalnya jalan raya, Pasar, pemukiman warga dan tempat penampungan sampah.
Paling mengkhatirkan dari "Manusia Gerobak" adalah nasib anak anak mereka, praktis tidak sekolah dan tak tersentuh pelayanan kesehatan. Dalam jangka panjang, ini otomatis akan menimbulkan masalah baru karena tanpa pendidikan mereka sulit akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik
Maraknya "Manusia Gerobak", seperti halnya anak jalanan, gelandangan dan pengemis merupakan problem ibu kota. Dari prespektif HAM itu merupakan bentuk kelalaian negara.
Hak yang yang paling tercabut dari mereka menurutnya adalah hak atas kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Mereka tidak memiliki akses pendidikan, pekerjaan ataupun akses perumahan yang mestinya menjadi kewajiban negara untuk menyediakannya.
Artikel ini pernah dimuat di ucanews.com dengan judul 'Long days, anxious nights for 'cart people'

KOMENTAR